Menilik Perkembangan Industri Sawit di Indonesia

Jika Anda mendengar kata kelapa sawit, apa sih yang terlintas pertama kali dalam benak Anda? Pasti yang pertama kali terlintas yaitu mengenai produk kelapa sawit yang biasa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan? Pernahkah Anda mendengar tentang Mahkota Group? Mahkota group merupakan salah satu industri sawit yang ada di Indonesia.

Selain perusahaan tersebut, tahukah Anda bahwa masih banyak lagi perusahaan industri sawit di Indonesia ini? Bahkan, ada sebuah data yang menunjukkan bahwa lebih dari 10 juta lahan di Kalimantan dijadikan sebagai perkebunan kelapa sawit. Wow! Di Kalimantannya saja, sudah membuka lahan dengan angka yang sangat besar, apalagi di daerah lain seperti Sumatera dan sebagainya?

Industri Sawit Sebagai Strategis Nasional

Memang, Anda mungkin sering mendengar kabar yang negatif tentang perusahaan industri yang satu ini. Namun, dibalik semua pemberitaan negatif itu, banyak sekali nilai positif yang dapat diambil dari perusahaan industri yang satu ini.

Anda perlu tahu bahwa perusahaan industri sawit seperti Mahkota Group merupakan industri strategis yang dapat membantu:

Perekonomian Makro

Dalam perekonomian makro, perusahaan industri sawit mengambil peran besar, terhadap:

  • Penghasil devisa terbesar

Salah satu penyumbang devisa negara terbesar yaitu dari penjualan kelapa sawit yang dikirim ke luar negeri alias ekspor. Di Indonesia sendiri, banyak perusahaan-perusahaan non migas termasuk minyak sawit yang mengekspor produk-produknya ke luar negeri.

Nah, jika nilai ekspor minyak sawit dipisahkan dengan ekspor non migas lainnya, nilai ekspor minyak sawit sangat tinggi. Pada tahun 2014 silam, nilai netto ekspor minyak sawit mencapai angka USD 21.1 miliar, sedangkan untuk nilai netto ekspor non migas lainnya yaitu USD -9.9 miliar.

Dari data diatas memang menunjukkan bahwa penghasil devisa terbesar yaitu ekspor minyak sawit.

  • Kedaulatan energi

Seperti yang kita ketahui, penggunaan BBM masih banyak diterapkan oleh masyarakat di Indonesia. Dengan adanya perkebunan kelapa sawit ini, diharapkan penggunaan BBM dialihkan dengan penggunaan substitusi terbarukan seperti penggunaan biodiesel sawit.

Dari kebijakan pemerintah mengganti sumber energi ini memang telah terbukti dapat menghemat devisa dan solar impor. Jika kebijakan ini diterapkan secara keseluruhan, maka akan terjadi penghematan solar impor sebesar 15.2 juta ton pada tahun 2020. Pada tahun 2015 saja, sudah terjadi penghematan impor solar sebesar 6.4 juta ton.

  • Ekonomi kerakyatan

Perkebunan kelapa sawit ini dapat membantu perkembangan usaha-usaha lainnya seperti usaha rumah tangga petani, usaha kecil hingga menengah baik itu berhubungan secara langsung maupun tidak langsung.

Usaha-usaha yang dapat berkembang sejalan dengan berkembangnya industri sawit ini seperti pengadaan pupuk, mesin perkebunan, alat, pestisida, alat tulis kantor, dan sebagainya.

  • Penyerapan tenaga kerja

Secara umum, kebutuhan tenaga kerja untuk bekerja pada perkebunan kelapa sawit yaitu mencapai 8.4 juta orang pada tahun 2015. Hal ini membuktikan bahwa industri sawit memang membuka lapangan kera yang banyak untuk para pekerja di Indonesia.

Pengurangan Emisi GHG

Di Indonesia sendiri memang emisi GHG masih dalam batas normal, sehingga tidak diwajibkan untuk diturunkan. Salah satu cara untuk mengurangi emisi GHG atau emisi gas rumah kaca yaitu dengan penyerapan kembali gas karbon monoksida yang terdapat di atmosfer.

Perkebunan kelapa sawit inilah yang memiliki peran yang sangat penting dalam penyerapan kembali gas karbon monoksida yang ada diudara. Dengan begitu, emisi GHG yang ada di Indonesia dapat dikurangi dengan maksimal.

Itulah hal-hal positif yang didapatkan dari perusahaan industri sawit seperti perusahaan MahkotaGroup.com.